| Login . Sign Up |
| Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search | Help |
Disclaimer : ATLUS
Buat Shara, ngga apa-apa kok. Aku malah seneng..
“Baiklah, pelajaran usai sampai sini. Pelajari lagi bab ini dan bab selanjutnya,” kata Ibu Toriumi sambil menutup bukunya dan keluar dari ruangan kelas 2-E. Beberapa orang mengekor di belakang Bu Toriumi ketika beliau keluar –membuat angin dingin musim gugur menerobos masuk, langsung pulang ke rumahnya atau pergi ke ruangan klub masing-masing.
“Fuuka, mau pulang bareng?” kata seorang siswi berkulit kecoklatan dan berambut agak merah. Gadis pemalu berambut hijau itu menggeleng pelan.
“Ah, maaf Natsuki-chan. Aku ada kumpul fotografi hari ini, jadi pulangnya agak terlambat. Maaf ya,” katanya lembut.
“Oh, begitu,” katanya sambil mengangkat bahu. “Kalau begitu, aku duluan ya,” katanya sambil melambai pada Fuuka dan berjalan keluar kelas. Fuuka balas melambai padanya, sebelum menoleh pada Sakura yang sedang menulis dengan terburu-buru.
“Sakura-san, nulis apa?” tanyanya.
“Itu, yang ada di depan,” katanya menunjuk ke depan dengan tangannya yang bebas tanpa menatap Fuuka.
“Ah, itu. Aku udah selesai nyatet kok, mau pinjem?” tanya Fuuka ramah sambil menyodorkan buku catatannya yang rapi. Sakura mendongak dan tersenyum.
“Makasih, tapi aku lebih suka nyatet langsung. Lebih masuk,” katanya pada Fuuka, sementara tangannya masih sibuk menulis. Fuuka memperhatikan koordinasi yang hebat antara mata dan tangan temannya itu dengan takjub.
“Gitu,” kata Fuuka sambil membereskan bukunya lalu bangkit. “Aku duluan ya. Ada rapat klub. Sakura-san udah tau ruangan klub musik kan?” tanya Fuuka yang dijawab oleh anggukan singkat Sakura –yang bahkan tidak melihatnya sama sekali sekarang. “Sampai ketemu di asrama!” seru Fuuka sambil berlari keluar kelas.
“Oke, dah!” kata Sakura basa-basi. Tangannya sudah kebas, gara-gara catatan literatur sastra yang terpampang dengan gagah dan menyebalkan di papan tulis. Ketika selesai, ruangan kelas sudah agak sepi. Ia lalu mengikat rambutnya lalu membereskan bukunya sebelum berjalan gontai keluar kelas, menuju ruangan klubnya.
Di luar kelasnya, ia melihat Minato sedang berbicara dengan seorang gadis berambut panjang dan memakai kacamata. Kelihatannya mereka sedang bertengkar.
“Ta...tapi Minato-san,” kata gadis itu terbata-bata.
“Tidak ada tapi-tapian, Chihiro. Mereka tidak boleh menuduhnya atas sesuatu yang tidak dia lakukan. Aku akan membereskannya sekarang juga,” kata Minato sambil bergerak menuju ruang OSIS, tapi Chihiro menghalanginya.
“Mi..Minato-san, dia berpesan padaku agar tidak mengizinkanmu masuk,” kata Chihiro. Minato tidak menggubrisnya dan mendorong Chihiro dengan agak kasar dan masuk ke dalam ruang OSIS. Dari dalam ruangan terdengar suara gebrakan meja dan suara orang yang membentak.
Sakura mematung tidak percaya melihat apa yang baru saja dia lihat. Seorang Minato yang poker-face itu, marah-marah?
Setelah pintu ruang OSIS tertutup dengan rapat, Sakura meneruskan perjalanannya menuju ruang klub. Ia sudah ingat peta lingkungan sekolah yang tidak terlalu rumit ini. Tidak sulit baginya menemukan ruangan klub yang berseberangan dengan ruangan klub Fuuka. Ia mengetuk pintu sekali sebelum masuk.
Elegan, itulah yang pertama kali terlintas di kepala Sakura. Dengan sebuah grand piano berwarna hitam yang berdiri gagah di depan ruangan dan hiasan-hiasan berwarna keemasan yang menghiasi ruangan.
“Selamat siang,” sapa seorang pemuda dengan rambut hitam legam yang pendek dan rapi, membuyarkan lamunan Sakura. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.
“Ah, saya, bermaksud bergabung dengan klub ini, kalau bisa,” jawab Sakura tersendat sambil menyerahkan formulir pendaftaran anggota baru. Pemuda itu menerimanya dan membaca dengan teliti. Sementara pemuda itu membaca formulirnya, Sakura melihat dengan teliti ruangan itu. Hanya ada dia dan pemuda itu dalam ruangan ini.
“Hmm, begitu. Disini disebutkan kamu bisa memainkan gitar, piano, biola dan, wow,” katanya terkejut, “saxophone?” tanyanya. Sakura mengangguk tersipu. Pemuda itu lalu tersenyum dan mengangguk-ngangguk. Baru saja pemuda itu hendak mengatakan sesuatu, pintu ruangan terbuka dan seorang siswa berambut biru gelap seperti Minato –hanya lebih pendek dan rapi, serta berpostur tubuh tinggi dan terlihat ramah masuk.
“Yay, buchou! Selamat siang!” sapanya.
“Selamat siang, Kairi,” balas pemuda berambut hitam itu. “Bagaimana ujian matematikanya?” tanyanya lagi.
“Haha, berkatmu buchou! Aku bisa menyelesaikan sepertiganya!” katanya sambil menaruh tas dan membuka kotak hitam yang sejak tadi ditentengnya. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah biola dan langsung saja menyetem senarnya sambil bersiul.
“Sepertiga? Setelah satu malam yang melelahkan itu dan kamu hanya bisa mengerjakan sepertiga? Ya ampun,” balas si pemuda rambut hitam sambil menggelengkan kepala. Kairi hanya nyengir dan memamerkan giginya lalu menoleh ke arah Sakura.
“He, siapa itu?” tanyanya bingung, menatap pemuda rambut hitam.
“Ah, ini, namanya Sakura Senjii. Dia bermaksud bergabung dengan kita,” jawabnya. Mendengar jawaban pemuda itu, Kairi langsung bangkit dan menghampiri Sakura.
“Huumm, kok aku ngga pernah liat?” tanya Kairi.
“Aku baru dua bulan disini,” jawab Sakura agak menunduk karena Kairi menatap matanya dirinya lekat-lekat.
“Oh, begitu. Aku Kairi Kiihana, kelas 2-A. Salam kenal!” serunya sambil tersenyum, lalu kembali pada kegiatannya menyetem senar biola. Pemuda berambut hitam itu hanya tersenyum melihat tingkah Kairi dan melipat formulir pendaftaran Sakura.
“Dan aku Seishin Gariaki, kelas 3-E, sekaligus ketua klub ini. Sakura-san, selamat bergabung bersama kami,” katanya sambil tersenyum menyilaukan.
Latihan di klub musik SMU Gekkou sangat melelahkan. Ketua mereka sangat tegas dan tidak main-main ketika sudah berurusan dengan musik. Salah sedikit nada saja, diulangi dari awal. Sakura yang ditempatkan pada posisi piano bisa dibilang mendapat tugas paling sulit. Baru saja dia diperkenalkan, ia langsung diberi setumpuk partitur not balok yang harus dipelajarinya dan dikuasainya dalam waktu satu bulan.
“Gimana caranya aku bisa mainin semuanya dalam waktu satu bulan?” gumam Sakura ketika latihan usai dan yang tersisa di ruangan itu hanya Kairi dan dirinya. Kairi tertawa mendengar gumaman putus asa Sakura, membuat gadis itu mendelik geram ke arahnya.
“Hahaha, tenang aja. Anggota klub punya akses masuk ruang musik dua puluh empat jam. Jadi ngga perlu khawatir,” katanya menenangkan. Sakura hanya mengangguk singkat dan membereskan barang bawaannya yang bertambah banyak.
“Kalau begitu aku duluan ya, Kiihana-san,” kata Sakura sambil beranjak ke pintu.
“Oke, sampai besok!” seru Kairi sambil melambai.
Hari sudah sore ketika Sakura keluar dengan susah payah sambil membawa tumpukan partitur dan memegangnya erat-erat. Namun, angin yang bertiup cukup kencang mengacaukan usahanya dan membuat kertas-kertas itu melayang-layang di udara. Sakura menggeram frustrasi melihat serakan kertas yang berantakan dimana-mana itu. Ia lalu jongkok dan memunguti kertas-kertas itu. Tidak berapa lama, ia menyadari ada seseorang yang ikut jongkok dan membantu memungut kertas laknat yang berserakan itu.
Ia mendongak dan menatap seseorang yang sedang membantunya. Seorang pemuda berambut abu-abu dan memakai rompi rajut berwarna merah yang sudah sangat dikenalnya. Merasa ada yang sedang menatapnya, ia melihat Sakura dengan mata abu- abunya yang membius.
“Ada apa?” tanyanya datar pada Sakura.
“Ngga,” jawabnya lalu meneruskan memungut. Ketika semua kertas sudah terkumpul, mereka berdiri dan pemuda itu menyerahkan kertas-kertas yang dikumpulkannya pada Sakura.
“Punyamu?” tanyanya.
“Properti klub,” jawab Sakura singkat dan melepas ikat rambutnya dengan cepat, lalu menggulung kertas-kertas itu dan mengikatnya dengan ikat rambut. Rambutnya terurai berantakan karena angin yang bertiup kencang dan sentakan yang tiba-tiba ketika ia melepas ikat rambutnya tadi. Akihiko mendekat dan menyentuh rambut Sakura, mengambil beberapa helai rambutnya yang mencuat dan menyelipkannya di telinga Sakura. Aksi tiba-tiba Akihiko ini membuat Sakura memerah dan menjatuhkan semua barang bawaannya.
“Ah, maaf,” kata Akihiko merona sambil memungut dan memberikan barang-barang Sakura pada pemiliknya yang sekarang sedang mematung. Sakura menerimanya dengan ragu-ragu dan segera memeluk barang-barang itu –memastikannya tergenggeam erat dan tidak jatuh lagi. “Ayo,” ajak Akihiko padanya. Sakura mengangguk singkat dan berjalan disamping pemuda itu.
“Hyaah, aku ngga sanggup!” kata Junpei dari meja makan yang sudah beralih fungsi menjadi meja belajar. Buku-buku bertumpuk dan berserakan di hadapan pemuda yang kelewat ceria itu.
“Junpei-kun, ayo semangat!” seru Fuuka yang sedang duduk di sebelahnya.
“Ngg, Fuuka-chan! Kamu memang penyelamatku!” kata Junpei sambil memeluk Fuuka. Kontan, gadis pemalu itu langsung merah dan membeku.
“Stupei! Lepaskan Fuuka!” seru Yukari sambil menyambit kepala Junpei dengan penggaris besinya, membuat Junpei melepaskan pelukannya dan mengusap kepalanya.
“Sudah, kalian berdua! Junpei, sebaiknya kamu belajar saja sendirian di kamarmu. Takeba dan Yamagishi, hari sudah larut, sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing,” perintah Mitsuru lembut. Ketiga remaja itu hanya mengangguk singkat dan membereskan barang-barang mereka. Di lounge hanya ada tiga orang itu, Mitsuru, Koromaru yang sudah pulas di sudut ruangan dan Akihiko. Shinjiro menginap di rumah temannya, Ken sudah tidur, Aigis sedang bersantai di lantai atas, sementara Minato langsung masuk kamar begitu pulang tadi.
“Akihiko, kamu ngga masuk kamar?” tanya Mitsuru pada pemuda yang sedang baca koran di kursi dekat meja.
“Ngga, aku mau baca ini dulu,” kata Akihiko tanpa melihat ke arah Mitsuru. Mendapat jawaban seperti itu, Mitsuru tampak tidak suka. Ia lalu duduk di sebelah Akihiko, mengagetkan pemuda itu. “Ada apa, Mitsuru?” tanya Aki bingung.
“Sepertinya hubunganmu dan Sakura-san membaik, setelah malam itu,” kata Mitsuru menatap tajam ke arah Aki.
“Huh? Oh, itu. Yah, begitulah,” jawab Aki santai dan tanpa beban. Hal ini membuat Mitsuru semakin emosi.
“Jadi, sudah sejauh mana hubungan kalian?” tanyanya mengancam. Akihiko menoleh ke arahnya dan memasang tampang bingung.
“Apa maksudmu?” tanyanya sambil menautkan alisnya. Mitsuru tidak menjawab, hanya bangkit dan berjalan ke arah tangga. Rasanya ia ingin menendang muka bodoh Aki yang keterlaluan. Akihiko bingung dengan sikap temannya itu dan kembali membaca. Tiba-tiba Sakura turun sambil menguap.
Ia memakai piyama berwarna pink pastel dengan gambar kambing juling yang sangat besar. Rambutnya diurai berantakan, seperti orang baru bangun. Ia berjalan tersaruk-saruk ke dapur untuk mengambil minum, melewati Aki.
“Hei,” katanya dengan pelan. Hal ini membuat Sakura melonjak kaget.
“Se..senpai!”
“Ah, aku bikin kamu kaget ya. Maaf,” kata Akihiko.
“Ngga apa-apa. Aku juga yang salah, ngga liat ada orang lain. Maaf ya,” kata Sakura menunduk. Akihiko hanya tertawa melihat tingkah Sakura.
“Sudahlah, kamu belum tidur?” tanya Aki. Sakura, alih-alih menjawab, malah berjalan ke kulkas dan membukanya. Melihat isi kulkas yang kosong melompong, Sakura menghela nafas.
Aki tampak menyadari apa yang dicari gadis yang sedang termenung di depan kulkas yang terbuka itu. Ia lalu berjalan ke arah lemari makanan dan mengambil sekotak susu yang belum dibuka.
“Mau ini?” tanya Aki. Sakura menoleh dan melihat kotak susu itu, lalu mengangguk sambil menutup kulkas. Ia lalu berjalan menghampiri Aki dan mengambil kotak susu itu dari tangannya.
Setelah itu, ia berjalan ke arah kompor dan menuang susu itu ke dalam panci kecil. Tiba-tiba, ia menoleh ke arah Aki.
“Mau?” tanyanya. Aki hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah mendapat jawaban Aki, Sakura melanjutkan kegiatannya. Ia menuang lebih banyak susu ke dalam panci, lalu menyalakan kompor serta menaruh panci di atas api. Ia lalu mengaduk-aduk isi panci dengan malas sambil menguap sesekali, sementara Aki mengambil dua buah gelas dan menaruhnya di dekat Sakura.
“He, mukamu kocak kalo nguap,” canda Aki ketika Sakura membuka mulutnya dengan lebar. Sakura langsung menutup mulutnya dan mendelik pada pemuda yang sedang menahan tawa.
“Menyebalkan,” gumam Sakura sambil terus mengaduk panci yang sudah mulai mengepul. Ia lalu mematikan api dan mengambil serbet makan. Ia melipat serbet itu dan menggunakannya untuk mengambil panci panas, untuk kemudian menuang isinya pada dua gelas besar yang sudah disiapkan Aki. “Ini,” katanya masam sambil menyerahkan gelas yang mengepul.
“Thanks,” kata Aki tersenyum, menerima gelas itu dan langsung menyeruputnya. Ia merasakan sensasi menenangkan yang diberikan oleh minuman itu di tenggorokan dan lambungnya. Rasanya menyenangkan. Sakura melihat ekspresi Aki dan tersenyum sinis.
“Huh, bagaimana? Enak kan?” tanyanya sombong. Aki hanya mengangkat bahu dan kembali menenggak minumannya. “Aku memang hebat,” kata Sakura lagi dan ikut minum. Mereka terus minum tanpa bicara, hanya tertawa-tawa tanpa suara.
“Haah,” hela Aki setelah menghabiskan minumannya. Di saat yang bersamaan, Sakura juga selesai. Ia mengambil gelas Aki dan beranjak ke wastafel.
“Dicucinya besok aja, udah malem,” kata Aki ketika ia melihat Sakura bermaksud membuka keran air. Sakura menoleh dan –tumbennya, menurut. Ia menumpuk gelas dan panci kotor di dalam wastafel, lalu berjalan menghampiri Aki dan duduk di sebelahnya.
“Ne, senpai,” katanya.
“Hmm?”
“Soal yang waktu itu.”
“Hah? Yang mana?” tanya Aki bingung.
“Stasiun,” jawab Sakura singkat. Aki menyadari arah pembicaraan ini. Ia mengubah posisi duduknya yang agak santai jadi lebih serius dan menatap tajam ke arah Sakura yang termenung.
“Negyuu, dan Reijin, dua orang terdekat kakekku. Negyuu sudah ada sejak aku pindah ke rumah kakek karena ibuku meninggal, sementara Reijin baru datang dan bergabung ketika aku kelas satu smp. Mereka berdua adalah anggota yang diperbolehkan menemani dan mengurus aku. Negyuu bertindak sebagai kakak yang mengawasi tindakanku, sementara Reijin bertindak sebagai partnerku.
“Sejak awal, aku sudah diajarkan berbagai hal untuk menjadi seorang ketua yang baru. Bahkan ketika aku baru pindah dan masih shock, dia sudah mengajariku teknik-teknik dasar beladiri. Begitu aku masuk sd, ia mengajariku cara berbicara ala mereka dan cara berekspresi yang baik dan benar, ala mereka juga tentunya. Saat itu aku masih ngga tau apa maksudnya.
“Begitu smp, Reijin masuk, dan dengan segera kami jadi partner dalam melakukan hal-hal bodoh. Ia ramah dan ceria, serta hobi cengengesan. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk bisa berbagi macam-macam hal. Dia cerita soal kampung halamannya, soal kebebasan. Tidak pernah ada paksaan dalam melakukan apapun, hanya melakukan apa yang diinginkan.
“Mendengar cerita-cerita yang sangat mustahil bagiku saat itu ternyata ada dan benar-benar terjadi, aku mulai berontak. Sejak itu, aku ngga pernah mau lagi mengikuti apapun yang diperintah kakek, dan mendeklarasikan diri ngga mau jadi ketua selanjutnya. Jelas, beliau marah besar. Dia ngatain aku kurang ajar, ngga tau terima kasih dan sebagainya.
“Katanya lagi, aku dibuang sama,” Sakura menelan ludah, “ayah, gara-gara ibu meninggal. Yah, semacam pelampiasan gitu. Katanya kakek, dia juga ngga mau ngurus aku, alesannya aku mirip banget sama ibu. Mana aku ngerti hal-hal kayak gitu.
“Puncaknya, kelulusan smp kemarin. Beliau ngurung aku di sebuah kamar, dijaga sama Negyuu dan Reijin. Mereka bilang aku mendingan nurut aja. Tapi aku ngga mau, ngga setelah aku tau aku bisa bebas juga. Aku tau suatu saat orang tua sialan itu bakal mencoba ngurung aku, makanya udah dari lama aku ngepak barang dan nentuin kota baru. Begitu aku dikurung gitu, semua berkas mengenai kepindahanku udah selesai diurus, jadi aku tinggal bawa badan aja. Ngga susah keluar dari rumah itu, jadi hari aku dikurung itu juga sekaligus hari dimana aku bisa bebas,” kata Sakura mengakhiri penjelasan. Akihiko yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama mulai mengerti yang sebenarnya terjadi.
“Hm, menarik juga. Jadi, siapa yang kira-kira bakal berhasil nyeret kamu balik?” tanya Akihiko. Sakura mengerucutkan bibirnya, berpikir.
“Banyak kemungkinan, tapi Negyuu dan Reijin jelas masuk hitungan. Mereka tau aku disini, dan mereka tau aku sekolah dimana. Kemampuan mereka berdua juga diatas rata-rata, baik otot maupun otaknya, dan jelas mereka ngga akan kerja sendiri. Ada banyak anggota baru sejak aku pergi, dan aku ngga tau gimana orangnya. Aku rasa, semua anggota bakal dikerahkan,” katanya yakin. Akihiko terkejut, ia tidak menyangka keadaan yang sebenarnya akan separah ini. Sakura yang menyadari keterkejutan Aki hanya tersenyum.
“Tenang aja, senpai. Aku ngga bakal nyusahin kalian. Mereka semua bukan lawan yang sepadan. Lagian, aku juga ngga mau balik kesana,” kata Sakura menenangkan. Akihiko menoleh dan membuang nafas panjang. Ia menggeleng lelah.
“Jangan gila. Mereka semua yakuza tau,” kata Aki.
“Ya, aku tau. Tapi aku juga, kan?” balas Sakura sambil nyengir dan memamerkan giginya yang bersih dan tertawa. Melihat kelakuan kohainya, mau tidak mau Akihiko ikut tertawa juga.
“Dasar bego,” kata Aki sambil tersenyum sinis. Sakura hanya mengangkat bahu dan ikut tersenyum sinting.
“Yap, latihan selesai! Ingat baik-baik bagian yang baru saja kita pelajari. Jangan lupa, besok kita latihan lagi,” kata Seishin sambil membereskan partiturnya, disambut gumaman lemah dari anggotanya. Sakura hanya menghela nafas. Tidak pernah ia menyangka latihan di klub musik sekolah akan menguras tenaga seperti ini. Ia tidak sanggup berdiri dari kursi piano karena baik tangan dan kakinya sama-sama lelah.
“Sakura-chan! Gimana latihannya?” tanya Kairi setelah semua orang pulang, sehingga hanya mereka berdua dan Seishin yang tersisa.
“Ini lebih mirip kerja paksa tanpa upah daripada latihan,” kata Sakura sambil menggerak-gerakan tangannya yang kram. Mendapat jawaban semacam itu, kedua pemuda itu berpandangan lalu tertawa.
“Denger tuh buchou! Kerja paksa!” seru Kairi.
“Yah, kerja paksa atau apapun, kalian tidak pernah mengeluh saat latihan yang sebenarnya. Kalian hanya mengeluhkan efek dari latihan saja kan? Itu tidak ada hubungannya dengan metode latihan,” kata Seishin membela diri. Kairi dan Sakura mendengus tidak setuju.
Tiba-tiba, pandangan mata Seishin terpaku pada satu titik diluar jendela. Ia lalu mengerutkan dahinya dan berjalan ke arah jendela. Kairi lalu menghampiri buchou-nya itu untuk melihat apa yang menyebabkan ia berperilaku aneh begitu. Begitu ia melihat keluar juga, ia ikut membatu.
“Kenapa kalian?” tanya Sakura yang kebingungan. Tidak ada jawaban. Akhirnya ia menghampiri mereka berdua dan melihat keluar. Matanya terbelalak melihat apa yang ada diluar. Ia langsung berbalik dan mengambil barang-barangnya, sebelum kemudian berlari ke arah pintu dan membiarkannya terbuka begitu saja. Secepat yang ia bisa, ia berlari menuju gerbang sekolah.
‘Jangan sampai mereka terlihat oleh orang lain,’ batinnya sambil terus berlari. Begitu ia sampai di depan kerumunan orang itu, ia melihat mereka dengan garang. Seorang pria botak yang berdiri paling depan menyadari kedatangan Sakura, tersenyum dan membungkuk hormat.
“Selamat sore, Sakura-sama. Saya pikir Anda sudah mengetahui maksud kedatangan kami hari ini,” katanya sambil terus membungkuk. Di mulutnya, sebuah senyum ganjil merekah.
A/N : hahaha, lama banget? Maaf-maaf...
Geje? Yah, sudahlah..
Yah, pokonya review.
Regards,
tazzualdehid